Header Ads

Pendidikan dan Budaya Konsumtivisme


Pendidikan merupakan salah satu wadah bagi masyarakat untung mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengembangkan ide serta kreativitas yang baru. Pendidikan seperti sifat saarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks serta tidak ada batasan yang dapat mengartikan pendidikan secara lengkap.

Banyak yang mengaitkan pendidikan dengan berkembangnya teknologi sebagai salah satu sarana dalam pendidikan. Pendidikan juga berkaitan dengan adanya pendidik dan peserta didik yang saling berhubungan demi terciptanya tujuan pendidikan.

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok masyarakat dari satu generasi kegenerasi selanjutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian. Pendidikan utama di Indonesia dapat dibedakan dalam tiga jenjang, yakni SD, SMP, dan SMA. Pendidikan juga dapat kita lihat melaui fungsinya yakni sebagai proses transformasi budaya. Namun, banyak sekali yang menyalahartikan budaya dengan menggunakan budaya luar dalam melakukan ranah pendidikan. Dampak yang ditimbulkan juga cukup banyak, salah satunya yaitu dengan munculnya perilaku konsumtivisme pada peserta didik.

Perilaku konsumtif memang dirasakan dalam seluruh kalangan masyarakat, tidak terkecuali remaja yang lebih memanfaatkan teknologi untuk menciptakan perilaku konsumtif tersebut. Konsumtivisme yang terjadi saat ini ternyata membawa pengaruh besar terhadap perilaku masyarakat modernisasi.

Perilaku konsumtif dapat terjadi dalam seluruh elemen masyarakat, termasuk pelajar yang biasanya mulai memasuki usia kedewasaan dan mengutamakan gaya/ fashion. Seperti yang terjadi saat era modernasasi ini, remaja dalam kehidupannya lebih mementingkan penampilan dan kesenangan, begitupun dalam proses belajar yang terjadi dalam sekolah. Hal ini tentunya dapat merubah pola perilaku dan interaksi peserta didik dalam lingkungan sosialnya serta dampak yang terjadi pada perilaku peserta didik tersebut.

Jika melihat dari sisi positif, perkembangan teknologi dapat meningkatakn pengetahuan peserta didik dengan waktu dan saat kapanpun untuk diakses. Dapat dilihat melalui penerbitan buku yang tidak hanya bersifat cetak tetapi juga berisfat online dan dapat diakses. Namun, jika melihat perkembangan yang saat ini terjadi, teknologi ternyata dapat juga membawa pengaruh pada sisi negatif yakni dengan munculnya budaya konsumtivisme.

Seperti yang diketahui jika budaya konsumtivisme sangat berkaitan dengan adanya perilaku yang hanya mengingikan kesenangan dan kebahagian dengan cara membentuk identitas yang baik didepan orang lain.

Perilaku konsumtif yang terjadi dalam lingkup pendidikan terlihat dari banyaknya remaja yang menggunakan barang-barang bermerk dan fashion yang sedang tren diseluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa remaja saat ini bukan memenuhi kebutuhan, melainkan keinginannya.

Beberapa contoh kasus yang sudah sangat sering terlihat dalam lingkungan masyarakat adalah banyaknya remaja yang mementingkan gaya hidup ketimbang meningkatkan pengetahuannya dalam dunia pendidikan. Berdasarkan kajian-kajian terdahulu yang memuat mengenai pendidikan yang semakin modern serta perkembangan peserta didik yang dipengaruhi oleh kebudayaan luar dan membuat peserta didik mengikuti gaya hidup yang bersikap konsumtif.

Banyak peneliti yang mengamati budaya konsumtivisme yang terjadi dikalangan peserta didik. Dari semua penelitian yang pernah dilakukan, ternyatasikapkonsumtivismemembawadampak yang kurang baik terhadap perkembangan  peserta didik. Selain membawa pengaruh dalam proses pembelajaran, sikap konsumtivisme juga memberikan dampak dengan adanya kelas-kelas yang dibentuk oleh peserta didik untuk memberikan kesan terbaik diantara yang lainnya. Sebagai bentuk perkembangan teknologi, banyak aplikasi dalam sosial media yang sekarang sudah berkembang sangat pesat dan menyebar luas serta memberikan sugesti kesenangan tersendiri kepada penggunanya.

Banyak perusahaan-perusahaan media yang menciptakan sebuah aplikasi yang dapat membawa pengaruh besar terhadap dunia. Walau bagaimanapun, dunia sudah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat. Segala sesuatu dapat dilakukan hanya dengan menekan tombol-tombol yang ada dalam aplikasi tersebut.

Begitu juga dengan remaja yang mengguankan media sebagai sarana penunjang kebutuhan dan keinginannya. Salah satu bentuk perilaku konsumtif yang terjadi pada remaja yaitu dengan pengguanaan online shop. Namun biasanya remaja akan menggunakan olshop yang lebih terkenal dan biasanya menggunakan olshop dengan promo-promo tertentu.

Ada banyak online shop seperti menyediakan jenis kebutuhan dan mengakibatkan munculnya sikap konsumtivisme pada kalangan remaja. Hal ini bisa disebabkan karna munculnya perilaku konsumtif yang telah membudaya pada masyarakat sehingga masyarakat dari berbagai kalangan mampu memenuhi keinginannya jika mereka juga memiliki modal.

Konsumtivisme juga ternyata berpengaruh pada posisi seseorang dalam lingkungan masyarakat. Ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa pengguna online shop ternyata tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan untuk mempertunjukkan bahwa mereka dapat terlihat lebih berkelas. Hal ini juga dapat membawa pengaruh pada terbentuknya identitas baru untuk menutupi bahkan menghilangkan realitas.

Banyak yang beranggapan bahwa dengan menggunakan online shop juga berpengaruh pada posisi mereka sebagaimana dijelaskan bahwa penggunaan olshop ini juga harus memiliki modal yang cukup. Sebagaiman online shop lahir dari adanya media komunikasi dan bertujuan memberikan daya tarik yang besar kepada penggunanya, teknologi juga menjadi faktor utama dari munculnya budaya konsumtivisme dan berkembang hingga saat ini.

Dari segala persoalan yang hadir dari adanya budaya konsumtivisme, hendaknya harus diimbangin dengan pengetahuan masyarakat dalam memilah dan memilih perkembangan dan pembaruan yang terjadi. 


Oleh : Agnes Gresy Tania

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten




1 comment:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.