Header Ads

Nestapa Nelayan Salira Cilegon


Masyarakat nelayan salira yang berlokasi di cilegon menggantungkan hidupnya pada tanah pesisir yang membentang di sekitar daerah salira yang menjadi lahan mata pencaharian mayoritas masyarakat salira. Nelayan biasanya mencari ikan disekitaran pesisir dengan jarak melaut 20-30 meter dari bibir pantai dengan hasil tangkapan yang cukup lumayan sekitar 5-10 kg perharinya, dan masyarakat nelayan pun merasa sangat tercukupi dengan penghasilan ikan perharinya untuk kehidupan sehari-hari.

Setelah mendapat ikan, nelayan membawa ikan-ikan hasil tangkapannya ke pasar untuk dijual, keuntungan yang lumayan besar menjadi semangat dalam mencari ikan. Tingginya tingkat kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk perikanan secara cepat. Pengawasan dari pemerintah seta keseimbangan harga jual pasar membuat kenaikan nilai pemanfaatan produk perikanan. Secara tidak langsung dapat menaikan hasil pendapatan masyarakat nelayan. Agar masyarakat nelayan tetap bertahan dalam profesinya sampai menjadi turun-menurun pada keluarganya. 

 Tetapi, pada saat ini kesedihan menimpa masyarakat nelaya karena adanya korporasi besar  di salira indah dan sudah berdiri sekitar 1 tahun yang lalu. Masyarakat nelayan merasa terganggu dengan adanya korporasi besar, karena sudah menyita sebagian besar lahan mereka untuk bekerja.

Disitanya lahan membuat masyarakat nelayan tidak memiliki tempat untuk bersinggah, tidak memiliki perahu yang besar dan mesin untuk berlayar mencari ikan. Sehingga kehidupan sehari-harinya menjadi tidak tercukupi, karena pada saat korporasi besar itu berdiri, masyarakat nelayan hanya mendapatkan 3-5 ikan saja perharinya. Tidak hanya itu, batu bara yang dikelola oleh korporasi besar itu membuat pantai menjadi tidak alami, sehingga membuat masyarakat salira dan pengunjung tidak mau berkunjung ke pantai salira. Karena dulu salira adalah tempat wisata yang banyak dikunjungi mayoritas maupun minoritas.

Sebenarnya masyarakat nelayan tidak ingin terjadinya konflik hanya ingin menjaga kerukunan antara masyarakat nelayan dan korporasi besar tersebut. Tetapi  masyarakat nelayan harus menelan pahit janji manis yang sempat diberikan namun tak kunjung di realisasikan oleh korporasi besar yang pada awalnya pemilik korporasi besar berjanji jika masyarakat mengijinkan pembangunan korporasi, maka masyarakat akan terjamin kebutuhannya, terbukanya lapangan pekerjaan untuk masyarakat, dan adanya pembuatan lapangan bola untuk sarana pengembangan kegiatan masyarakat yang belum terealisasikan oleh pihak korporasi tersebut. Nyatanya masyarakat nelayan yang merasa tertindas dan sama sekali tidak ada bantuan dari pihak korporasi tersebut, hanya masyarakat darat yang menerima bantuan, berupa sembako dan beras satu karung.

Dalam penuturan pak salim mengatakan bahwa ''masyarakat darat dan masyarakat nelayan itu berbeda jika ingin memberikan bantuan ya ke saya buka ke kepala desa, kepala desa hanya sebagai pemberian simbol saja, tetap diberikannya kepada saya'', yang di maksudkan oleh ketua masyarakat nelayan itu tidak apa diberikan secara simbolis, tetapi ada wujud nyatanya dan yang mengelola ketua nelayan karena ketua nelayan yang tahu.

Organisasi nelayan sudah mengajukan proposal kepada pihak korporasi besar tersebut, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali oleh pihak yang bersangkutan. Tetapi jika organisasi nelayan mengajukan proposal kepada pemerintah, pihak pemerintah langsung menanggapi dan memberikan 27 unit merk yamaha dengan GP 6 PK sampai 16 PK, pemberian secara simbolis ketua kelurahan di libatkan dalam acara tersebut.

Sebenarnya masyarakat nelayan hanya ingin diperhatikan oleh pihak korporasi yang bersangkutan.
Dan untuk permasalahan perizinan reklamasi, ketua organisasi menanyakan kepada pihak pemerintah terkait ketuk palu/sidang amdal akan dimulai, ketuk palu akan dilaksanakan pada bulan oktober 2018, tetapi korporasi besar malah sudah melalukan penggusuran reklamasi. Sempat ada pensetopan penggusuran tanah selama 2 bulan. Sejak adanya korporasi besar tidak pernah memberikan dana sepeser pun kepada masyarakat nelayan.

Pembangunan korporasi besar seharusnya membuat masyarakat nelayan terjamin kebutuhannya, termasuk adanya bantuan serta sumbangan perahu, mesin yang mampu membuat para nelayan sejahtera, tercukupi kehidupannya. Sebenarnya masyarakat nelayan tidak ingin apa-apa hanya ingin di perhatikan oleh pihak korporasi besar. Walaupun masyarakat nelayan juga sudah berusaha dalam mencari nafkah, tetapi untuk apa adanya korporasi besar jika tidak ada bantuannya sama sekali. Masyarakat nelayan sudah mengusahakan untuk meminta dana untuk membeli peralatan berlayar sepeti mesin dan pembuatan perahu besar dengan cara mengajukan proposal kepada pihat  yang berkaitan, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali.

Seharusnya pihak yang korporasi mampu menemui masyarakat nelayan untuk berbicara dan menanyakan perihal aspirasi yang keluar dari mulut masyarakat nelayan tersebut. Karena pada dasarnya mereka melakukan kegiatan di dalam jalur masyarakat nelayan, dan pembuangan limbah pun dialirkan kearah laut yang membuat sebagian ikan-ikan menjadi mati secara perlahan. Lalu bagaimana dengan masyarakat nelayan yang hanya mengandalkan laut untuk memcari ikan? Nah, disini peran pemerintah sangat penting untuk kehidupan dan kemajuan masyarakat nelayan.

Sentuhan tangan pemerintah sangat dinantikan oleh masyarakat nelayan pada kejadian ini, karena yang diperhatikan tidak ada masyarakat darat tapi masyarakat nelayan pun sangat membutuhkan peran pemerintah. Ikan yang ditangkap oleh masyarakat nelayan dan dijual kepada pengepul  dan dilanjutkan ke agen distribusi ke tingkat yang lebih tinggi sehingga sampai kepada konsumen. Adapun di pulau jawa khusisnya di provinsi banten, masuk ke dalam provinsi yang gemar mengkonsumsi perikanan, bahkan memperjual belikan ikan khas banten. Dan yang berkunjung ke wisata kuliner tersebut tidak hanya kaum mayoritas, tetapi dipenuhi oleh kaum minoritas yang menikmati kuliner.

Pemerintah seharusnya melihat hal tersebut, demi melestarikan wisata perikanan di provinsi banten pemerintah mampu mengawasi permasalahan-permasalahan serta hak-hak masyarakat nelayan di salira. Seperti dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 1 Ayat 1 Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan PetambakGaram adalah segala upaya untuk membantu Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam dalam menghadapi permasalahan kesulitan melakukan Usaha Perikanan atau Usaha Pergaraman.

Di dalam undang-udang perlindungan nelayan sudah jelas bahwa pembudidayaan ikan itu sangat penting untuk membantu masyarakat nelayan dengan menjaga kelestarian perairan agar perikanan tetap terjaga dan berkembang biak. Dan masyarakat nelayan salira juga mampu terus memperjuangkan haknya tidak sampai mengajukan proposal saja, masyarakat nelayan mampu membuat mediasi dengan pihak korporasi secara baik-baik agar pihak korporasi bisa mendengar jerit nelayan yang selama ini merasa tertindas dengan adanya pembangunan korporasi besar.

Dengan adanya korporasi besar di salira indah seharusnya lebih tetap menjaga dan melestarikan wilayah perairan agar ikan tidak punah. Untuk korporasi besar seharusnya dalam pembuatan suatu proyek tidak hanya memikirkan bagaimana keuntungannya saja, tetapi memikirkan bagaimana dampak alam dan dampak sosial pada masyarakat sekitar yang langsung bersinggung dengan terjadinya proyek tersebut

Oleh : Risa Agustin
Penulis adalah Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten









No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.