Header Ads

Nasib Bahasa Jawa Banten di Era Globalisasi


Globalisasi hadir menawarkan begitu banyak kemudahan. Tak terkecuali masuknya budaya barat pun kini menjadi suatu hal yang lumrah. Salah satunya yakni bahasa asing, sehingga membuat kita harus mampu beradaptasi. Melalui pemanfaatan bahasa seseorang bisa berinteraksi sehingga kita dapat mengetahui identitas seseorang dari tutur atau dialek bahasa yang digunakan oleh lawan bicara. Kini bahasa daerah kerap dianggap suatu hal yang norak sehingga membuat banyak orang di era globalisasi ini melupakan bahasa ibu atau biasa disebut dengan bahasa daerah dimana mereka dilahirkan.

Sebagaimana dalam pasal 32 UUD 1945 menyebutkan bahwa “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”. Artinya kedudukan bahasa daerah sangatlah penting untuk menjaga dan melestarikan asset kekayaan budaya pada setiap daerah. Namun demikian, dalam perkembangannya kini banyak masyarakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mampu menjadi perantara seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda etnis.

Mereka melakukannya dengan tujuan untuk mempermudah dalam proses komunikasi yang searah agar dimengerti oleh kedua belah pihak. Sehingga tidaklah heran bila terjadi pergeseran bahasa ibu yang semakin terpinggirkan akibat dari adanya persaingan bahasa yang digunakan. Hal ini diperkuat dengan angka kepunahan bahasa Jawa tergolong tinggi.

Pakar Pusat Bahasa Jakarta pernah menyebutkan,  angka laju kepunahan bahasa Jawa adalah 4,1%. Angka kepunahan ini jauh lebih tinggi dari pada bahasa Bali yang hanya 2,1%. Salah satunya yakni bahasa Jawa dialek Banten (BJB) yang terancam keberadaannya. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa bahasa Jawa Banten memiliki dua tingkatan yang diakui keberadaannya yakni bahasa Bebasan (krama) dan standar. Bahasa ini menjadi bahasa utama Kesultanan Banten (tingkat bebasan) yang menempati Keraton Surosowan. Wilayah persebaran BJB meliputi Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, dan daerah Barat Kabupaten Tanggerang.

Faktor Penyebab Kemunduran Bahasa Jawa Banten

Adapun beberapa hal yang membuat terjadinya pergeseran Bahasa Jawa Banten (BJB) yakni diantaranya yaitu :

Pertama, persaingan bahasa hal ini diakibatkan dari perubahan sosial-budaya dimana masyarakat dwibahasa (bilingual) dan masyarakat anekabahasa (multilingual) jika saling berkomunikasi maka secara tidak langsung salah satunya harus mengalah untuk terjalinnya komunikasi yang baik. Seperti di wilayah Kelurahan Sumur Pecung yang terletak di wilayah urban memiliki karakteristik masyarakat yang heterogen serta ramai nya pendatang dari berbagai suku membuat mereka menggunakan BI sebagai jembatan untuk memudahkan mereka berinteraksi dengan masyarakat dari suku lain.

Kedua, perkembangan pendidikan.

Lingkungan sekolah merupakan sarana yang menjadi tempat terjadinya komunikasi lintas budaya dengan berbagai suku, etnis, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengalaman pribadi penulis kerap menemukan kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah, diantaranya yakni saat pembelajaran siswa harus menggunakan Bahasa Indonesia dalam berinteraksi. Akan tetapi, meski Bahasa Indonesia digunakan dalam pembelajaran hal itu tidak menghilangkan dialek dari bahasa jaseng yang dimiliki oleh beberapa siswa asli Banten. Hal inilah yang kerap kali menjadi bahan ejekan oleh siswa lainnya. Mereka menganggap bahwa jaseng merupakan bahasa yang ketingalan jaman atau suatu hal yang norak.

Ketiga, perkembangan ekonomi. 

Era globalisasi menghadirkan banyaknya tuntutan. Terutama dalam ranah pekerjaan biasanya banyak perusahaan menuntut persyaratan untuk menguasai Bahasa Indonesia serta Bahasa Asing lainnya terutama bahasa Inggris. Dengan banyaknya rekan kerja dari berbagai suku, sehingga dalam aktivitasnya pun mereka lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia (BI) daripada bahasa daerahnya masing-masing.

Keempat, kecenderungan orang tua kini tidak lagi mewariskan bahasa daerah pada anak-anaknya, mereka beranggapan bahasa daerah tak lagi penting dalam dunia kerja. Sehingga mereka mengarahkan kepada anaknya untuk menggunakan Bahasa Indonesia (BI) di dalam maupun di luar rumah.

Dengan demikian maka anak-anak dalam dunia pergaulannya akan cenderung menggunakan BI sebagai bahasa utama untuk melakukan interaksi bersama teman sepermainannya.

KESADARAN SOSIAL

Jadi, apapun alasannya Bahasa Jawa Banten (BJB) tidaklah boleh hilang tersinggkir akibat perkembangan arus globalisasi. Kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya membangun kesadaran kolektif guna menjaga dan melestarikan warisan budaya nenek moyang kita terdahulu. Oleh karenanya, dukungan dari berbagai pihak sangatlah penting guna pelestarian Bahasa Jawa Banten (BJB) ini.

Pentingnya menjaga eksistensi bahasa ibu (BJB) sebagai lambang dari identitas kita yakni masyarakat Banten, perlu mendapatkan perhatian lebih. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini izinkanlah saya sebagai penulis memohon kepada pihak yang bersangkutan untuk ikut andil dalam menjaga pelestarian Bahasa Jawa Banten ini diantaranya:

Pertama, kepada para pemangku kekuasaan di lingkungan Pemda, baik Provinsi atau Kota dan Kabupaten marilah mulai menyempurnakan kebijakan bahasa daerah. Upaya ini dilakukan guna membuka kesempatan besar terhadap pertahanan bahasa-bahasa daerah (BJB) seperti yang tertuang jelas dalam UU Otonomi Daerah (Otda). Terutama, kepada kepala dinas pendidikan baik tingkatan Provinsi, Kota dan Kabupaten sudah sepatutnya ikut membenahi kebijakan pemakaian bahasa ibu di tingkatan sekolah. Terlebih lagi pada tingkatan-tingatan dasar seperti Playgroup, TK, dan SD. Sebab, secara teoritis-linguistis bahasa daerah akan berjalan secara efektif jika diterapkan sejak awal yakni pendidikan dasar untuk keberlangsungan penguasaan bahasa lainnya. Untuk itu sangat disayangkan sekali bila pada tingkat pendidikan dasar pun sudah mulai mengesampingkan bahasa daerah dan menggantikannya dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Karena akan berdampak berdampak fatal pada pelestariannya atau bahkan hilang ditengah-tengah arus globalisasi.

Kedua, kepada para budayawan dan para guru bahasa di sekolah-sekolah mulailah untuk menyusun kurikulum, silabus dan merancang materi pembelajaran bahasa ibu untuk menjaga lokalitas indentitas kita sebagai masyarakat Banten tentunya. Janganlah menjadikannya sebagai bahasa kedua dan selalu memprioritaskan bahasa asing menjadi yang pertama. Tidakkah anda merasa malu bila anak didik kita mandul akan bahasa daerahnya sendiri dan mahir bahasa Inggrisnya?. Maka sudah sepatutnya kita semua menghargai dan melestarikannya sebagai warisan dari sejarah bangsa kita tercinta.

Ketiga, media komunikasi memiliki peran sebagai media pemertahanan bahasa yang efektif karena melalui media komunikasi inilah, bahasa daerah (BJB) akan tetap terjaga eksistensinya di masyarakat. Selain itu, dari media tersebut akan tercipta sebuah komunitas yang peduli terhadap bahasa daerahnya.

Penggunaan bahasa daerah dalam program siaran maupun komunitas sosial media lainnya dapat menjadi pemikat dan membangkitkan minat masyarakat sebagai komunitasnya untuk ikut berpartisipasi aktif di dalamnya. Keempat, keluarga merupakan gawang akhir yang sangat berperan penting bagi keberlangsungan bahasa daerah berjalan secara efektif. Sebab, dalam prosesnya  jati diri anak dibentuk ketika dia masih berada di lingkungan keluarga. Dengan demikian, maka orang tua juga memiliki peran penting untuk mewariskan bahasa daerah dengan baik agar saat anak terjun kelingkungan masyarakat tidak lagi merasa canggung atau malu, namun justru memperkuat kekerabatan mereka. Oleh karenanya, jangan biarkan bahasa ibu mati di lumbung sendiri. Karena bila hal itu terjadi maka akan berdampak pada hilangnya bahasa ibu yang menjadi identitas masyarakat Banten.

Maka dari itu, penulis berharap kepada seluruh elemen yang telah disebutkan di atas marilah kita dukung upaya untuk menjaga eksistensi bahasa daerah kita sebagai bagian dari asset budaya yang kita miliki. Kita boleh mengikuti arus globalisasi tetapi satu hal yang perlu diingat jangan sampai dampak globalisasi ini membuat kita melupakan bahasa daerah (BJB) sebagai lambang identitas orang Banten. Penulis memiliki keyakinan bahwa Bahasa Jawa Banten akan tetap terjaga eksistensinya bilamana semua elemen dapat berkontribusi dalam pemertahanan Bahasa Jawa Banten. Ayoo segera selamatkan bahasa jawa! “napik ngaku wong Banten lamun boten bangkit ngomong bebasan”.


Oleh : Nur Kholifah 
Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Sosiologi FKIP UNTIRTA, Serang, Banten



No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.