Header Ads

Membentuk Pola Pengawasan Pendidikan Berbasis Kemasyarakatan


Pendidikan dewasa ini menjadi salah satu aspek kehidupan yang begitu diminati dan digandrungi oleh masyarakat. Pendidikan seringkali dianggap sebagai unsur terpenting dalam mengarungidinamika  kehidupan. Era modern masa kini menuntut masyarakat muda khususnya untuk berproses dalam dunia pendidikan yang melembaga (institusi pendidikan) baik pada tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pada tingkat pendidikan tinggi dengan harapan agar menjadi insan(manusia) yang mulia akhlaqnya, mumpuni pengetahuan dan keterampilannya sehingga mampu mengelola kehidupan dan masa depannya. Selain itu,  pendidikan juga merupakan wahana untuk mengembangkan kepribadian, membentuk karakter utuh, dan menambah wawasan serta keterampilan yang nantinya menjadi pijakan dalam mengarungi modernitas(perkembangan zaman) kehidupan.

Pada kenyataannya pendidikan masa kini seakan keluar dari hakikat keberadaanya.Terjadi pergeseran makna dari pendidikan itu sendiri di masyarakat.Pendidikan saat ini hanya dianggap sebagai batu loncatan dalam menempuh dunia kehidupan yang sebenarnya nanti yakni dunia kerja.Pendidikan hanya sebagai formalitas semata, mengulur-ulur waktu, menunggu saat-saat potensial untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan.Pergeseran makna dari pendidikan tersebut menjadi problem (masalah) yang membabi buta persepsi masyarakat terhadap hakikat adanya lembaga pendidikan.

Pendidikan dan problema pendidikan di Indonesia 

Sebagaimana menurut Sihombing, pendidikan ini merupakan pendidikan yang dirancang, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha menjawab tantangan dan peluang yang ada dilingkungan masyarakat tertentu dengan berorientasi pada masa depan. UU No. 20 tahun 2003 pasal 13 ayat (1) menyebutkan bahwa “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”. Dengan demikian, pendidikan berbasis kemasyarakatan ini dapat diarahkan melalui ketiga bidang pendidikan tersebut dengan porsinya masing-masing.

Indikator yang perlu diperhatikan dalam membangun pendidikan berbasis kemasyarakatan yakni, Pertama, pendidikan harus berasal dari masyarakat, pendidikan yang diadakan karena kebutuhan akan pentingnya pendidikan tersebut dimasyarakat. Kedua, pendidikan hadir sebagai pengoptimalan peluang yang ada dimasyarakat itu sendiri. Dan yang terakhir, pendidikan berbasis kemasyarakatan ini harus berorientasi pada masa depan.
]
 Berikut ini fenomena  tawuran antar pelajar yang terjadi di kabupaten serang, banten tepatnya terjadi disekitar jalan raya serang-petir, kecamatan curug, banten pada pukul 15.10 WIB, kamis (28/09/2017). Dikatakan bahwa pemicu tawuran adalah dendam lama antar pelajar di SMK PGRI 1 dan SMK PGRI 2 kota serang. Penyerangan dilakukan oleh pelajar SMK PGRI 1 ke SMK PGRI 2. Namun tawuran juga melibatkan pelajar lain dari SMK 4 kota serang dan SMK 1 Keragilan. Akibat tawuran tersebut, satu pelajar atas nama ahmad sopian mengalami luka bacok dibagian kaki sebelah kiri dan kepala.(Telah dipublikasikan Detik. Com pada kamis, 28 September 2017).

Kemudian, ada lagi kasus yang dialami oleh peserta didik yakni penganiayaan yang dilakukan kakak kelas terhadap adik kelasnya di SMA Negeri 5 Kota serang. Berdasarkan hasil investigasi LPA Provinsi Banten dan LPA kota Serang, saat menemui korban dan orang tua korban terdapat luka berat pada tempurung kepala Akmal, (Korban). (Telah dipublikasikan oleh Banten Satu. Com).
Kedua Kasus tersebut dapat dijelaskan secara teoritik sebagaimana hasil penelitian dua orang psikolog Neil Miller dan John Dollard bahwa peniruan (imitasi) diantara manusia tidak disebabkan oleh unsur intrinsik atau pengaruh biologis akan tetapi itu adalah proses belajar meniru perilaku orang lain(social learning). Kasus tawuran dan penganiayaan diatas merupakan kasus peniruan tingkah laku salinan (copying) yang mengindikasikan bahwa peniru mengikuti tingkah laku model(objekyang ditiru) yang dilakukan dimasa lampau maupun yang akan dilakukan dimasa depan. Dapat diambil kesimpulan bahwa kasus penganiayaan ini terjadi karena merupakan hasil dari proses belajar yang dialami oleh peserta didik yang berada pada tingkat pendidikan lebih tinggi(kaka kelas)terhadap peserta didik yang lebih rendah(adik kelas) dengan menjadikan pengalaman dari dirinya dan teman- teman dilingkungannya sebagai tolak ukur dalam melakukan tindakan( melihat tingkah laku yang pernah dilakukan teman atau kaka kelas sebelumnya terhadap dirinya).

Membangun Pola pengawasan pendidikan berbasis kemasyarakatan 

Pendidikan berbasis kemasyarakatan ini apabila diimplementasikan kedalam lembaga pendidikan (sekolah) maka yang menjadi fokus perhatiannya adalah bagaimana masyarakat berperan aktif dalam membangun kebijakan-kebijakan pendidikan dilembaga pendidikan dengan tujuan agar hasil dari pendidikan itu dapat dinikmati oleh masyarakat sebagai tujuan akhir dari pendidikan itu sendiri.Dengan demikian, perlu adanya sebuah formulasi jitu dalam mengawasi pengelolaan pendidikan disekolah dengan memasukkan nilai-nilai kemasyarakatan.

Secara sosiologis, sebagaimana emile Durkheim mendefinisikan bahwa pendidikan merupakan proses dimana individu mendapatkan alat-alat fisik, intelektual, dan yang paling penting adalah moral yang diperlukan agar dapat berperan dalam masyarakat.

Pendidikan hendaknya selalu menjadi asas dalam membangun moralitas kehidupan karena memang tujuan akhirnya adalah beradaptasi kedalam lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, yang  harusmenjadi tolak ukur pengawasan ini adalah bagaimana moral itu melekat pada diri setiap unsur-unsur atau elemen-elemen yang ada didalam lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk Membangun pengawasan terhadap penginternalisasian moral(ajaran tentang baik, buruk, sikap, kewajiban, akhlaq, budi pekerti dan lain sebagainya)yang di transformasikan dari nilai-nilai dan norma yang ada dimasyarakat dan telah disepakati bersama yang ditanamkan oleh pihak lembaga pendidikan(guru dll) terhadap peserta didik atau siswa.

Pola pengawasan pendidikan berbasis kemasyarakatan ini dapat dikatakan sebagai pola pengawasan pendidikan yang berorientasi pada masyarakat sebagai subjek dan objek dalam pengelolaan pendidikan dilembaga pendidikan. Pada realitasnya, peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikannya di lembaga pendidikan akan kembali pada kehidupan bermasyarakat dan akan berperan didalamnya, sehingga pada kehidupan bermasyarakat itulah penilaian keberhasilan proses pendidikan dilakukan dan masyarakat sebagai observer(pengamat) keberhasilan atau ketidakberhasilannya seseorang atas pendidikan yang diembannya. Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat nilai dan norma yang harus ditaati dan dipatuhi sehingga keberhasilan pendidikan itu dipengaruhi oleh bagaimana tingkat ketaatan dan kepatuhan seseorang terhadap nilai dan norma yang berlaku.

Aktor-aktor yang berperan dalam membangun pola pengawasan

1.Orang tua, yang paling berperan aktif dalam membangun pola pengawasan pendidikan berbasis kemasyarakatan, yang memiliki intensitas kedekatan yang tinggi dan waktu yang relatif lebih lama bersama anak-anaknya ketimbang guru di lembaga pendidikan. Orang tua perlu merelakan waktunya kapanpun disaat anak-anaknya membutuhkan. Selain itu, orang tua juga perlu terus menanamkan nilai-nilai moral yang ada dimasyarakat sehingga kelak anaknya mampu beradaptasi dilingkungan masyarakat. Kemudian orang tua juga harusmempertontonkan perilaku yang teladan  didalam lingkungan keluarga melalui peran-perannya baik sebagai ayah maupun ibu bagi anaknya. Dengan demikian, anak akan meniru perilaku tersebut dan menjadikannya perilaku milik sendiri.

2.Guru, sebagai seorang pengajar, pendidik, pembimbing hendaknya pun membangun pola pengawasan terhadap peserta didiknya baik melalui aturan-aturan didalam kelas maupun melalui penanaman sikap secara aplikatif. Guru harus menjadi teladan, baik perilaku maupun ucapannya. Selalu menjaga kesopanan dan etika sebagai seorang guru. Seorang guru pun perlu untuk taat dan patuh pada aturan yang dtelah disepakati baik didalam ruang kelas maupun diluar. Selain itu, seorang guru juga sebagai pengawas perilaku dan peningkatan kualitas pengetahuan dan keterampilan peserta didik dan kemudian mengkomunikasikannya kepada orang tua peserta didik.

3.Masyarakat, sebagai akhir muara pendidikan pun perlu mengawasi dan mencermati bagaimana perilaku, sikap peserta didik didalam lingkungan masyarakat itu sendiri dan menjalin komunikasi aktif dengan orang tua dan guru. Masyarakat ini tidak dititik beratkan pada seseorang atau sekelompok orang di lingkungan masyarakat akan tetapi kepada siapapun yang ada dilingkungan peserta didik yang melihat dan mengamati segala tingkah laku peserta didik dilingkungannya.

Secara jelas, orang tua, guru dan masyarakat harus ikut andil dalam menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan karena merekalah yang memiliki tanggung jawab besar atas keberhasilan atau kegagalan dan mereka pun yang nantinya menerima konsekuensi atas kegagalan proses penanaman moral pada diri peserta didik dilembaga pendidikan(sekolah). Oleh karena itu, perlu adanya sinergisitas dari ketika ketiga aktor tersebut untuk mampu bekerja sama dan membangun komunikasi aktif bersama lembaga pendidikan terkait dalam melakukan pengawasan terhadap peserta didik dan proses pendidikannya (penanaman moral). Dengan begitu, maka pendidikan yang dijalankan oleh lembaga pendidikan akan berhasil dan berguna bagi pribadi peserta didik, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.

Pada akhirnya, formulasi atau ramuan yang tepat dalam membangun pengawasan pendidikan berbasis kemasyarakatan adalah formulasi pengawasan yang terintegrasi mulai dari pengawasan oleh orang tua dirumah, guru disekolah dan masyarakat dilingkungan sekitarnya.


Oleh : Muhamad Muhroy Safei
Penulis adalah mahasiswa pendidikan sosiologi FKIP UNTIRTA CIWARU


No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.