Header Ads

Lunturnya Nilai Pancasila di Era Globalisasi


Perkembangan zaman dewasa ini, telah sampai pada titik dimana jarak dan waktu bukan lagi menjadi persoalan. Kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi berdampak pada semakin menyempitnya ruang dan waktu, sehingga batasan-batasan antar negara seolah memudar. Akibatnya, segala bentuk produk manusia dapat dengan mudah keluar masuk di berbagai negara di belahan bumi manapun. Budaya merupakan salah satu contohnya, dimana kebudayaan satu dengan yang lain dapat dengan mudah masuk dan saling mempengaruhi pola pikir serta tindakan masyarakatnya.

Indonesia merupakan negara yang multikultural, atau dikenal dengan negara yang memilikikeberagaman bahasa, adat istiadat, tradisi dan budaya. Lalu apa yang dapat menyatukan Indonesia dengan keberagamannya tersebut? Yups, jawabannya adalah pancasila, hal ini ada dalam PP. No 66 Tahun 1951, dan diundangkan tanggal 28 Nopember 1951, termuat dalam  Lembaran Negara No. II/Tahun 1951 tentang lambang negara dan bangsa yaitu burung garuda pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Makna dari semboyan yang ada dilambang negara kita jelas berarti bahwa, meskipun Indonesia memilki beragam budaya dan adat istiadat serta negara yang memilki beribu-ribu kepulauan namun Indonesia tetap satu. Dalam pancasila juga terkandung nila-nilai luhur yang dijunjung tinggi dan merupakan intisari dari keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Nilai-nilai pancasila ini tidak hanya dijadikan sebagai dasar atau pandangan hidup saja, lebih dari itu pancasila merupakan tujuan atau cita-cita bangsa indonesia yang harus terwujud.

Saat ini nilai-nilai pancasila mulai luntur terkikis perkembangan zaman yang semakin modern ini. Arus globalisasi membawa dampak pada pergeseran nilai, dimana pancasila tidak lagi menjadi pandangan hidup bangsa, khususnya generasi muda kita. Kebudayaan kita tercampuri oleh kebudayaan asing yang dapat dengan mudah masuk, menjadikan pola pikir generasi muda terfokus pada kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan nilai pancasila. Seperti kita tau, kebudayaan barat lebih mengarah kepada pola perilaku yang bebas dan individualis serta masyarakat konsumerisme yang menekankan fashion sebagai gaya hidup mewah.

Lunturnya nilai pancasila ini tercermin pada perilaku remaja saat ini yang mengarah pada krisis moral, seperti banyaknya kasus perilaku menyimpang yang telah terjadi dewasa ini. Salah satu contoh kasus, tawuran antara dua kelompok pelajar yang terjadi pada tanggal 17 Maret 2018 tepat di daerah Kemang, Serang yang menewaskan seorang pelajar asal Bogor.

Dari kasus diatas mencerminkan bahwa, sikap toleransi, tenggang rasa dan saling menghargai sudah jarang dimiliki oleh generasi muda kita saat ini. Hal ini sudah sangat jelas  bahwa tindakan tersebut sudah keluar dari nilai pancasila butir ketiga, yang berbunyi Persatuan Indonesia dan semboyan kita “Bhineka Tunggal Ika” hanya menjadi penghias di lambang negara kita.

Lunturnya nilai-nilai pancasila bukan hanya terjadi akibat dari arus globalisasi saja, banyak faktor yang melatar belakangi hal tersebut, misalkan minimnya kesadaran keluarga tentang pentingnya penanaman nilai dan moral sejak dini, dan kurangnya kecintaan serta pemahaman peserta didik tentang pendidikan pancasila disekolah-sekolah maupun diperguruan tinggi, sehingga tujuan pendidikan pancasila tidak tercapai dengan baik. Untuk itu perlunya penanaman nilai-nilai pancasila sejak dini agar menumbuhkan rasa nasionalisme yang mengarah pada nilai positif. Melalui keluarga, hal ini dapat dilakukan sejak anak masih kecil, karena orang tua memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter anak.

Masyarakat juga memiliki peran, dalam bentuk pengawasan kepada generasi-generasi muda agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah. Masyarakat tidak boleh acuh ketika ada individu atau sekelompok remaja melakukan penyimpangan, disinilah peran masyarakat untuk memberikan teguran atau hukuman agar perilaku tersebut tidak terulang kembali. Selanjutnya, peran institusi sekolah atau perguruan tinggi harus dimaksimalkan. Artinya, sekolah sebagai tempat untuk menimba ilmu harus bisa membangkitkan gairah nasionalisme, melalui pembelajaran pendidikan pancasila seharusnya dapat memberikan kesadaran pada peserta didik, bahwa pancasila bukan hanya sekedar rangkaian kata-kata saja, lebih dari itu pancasila merupakan pandangan, dasar, ideologi hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ketiga elemen diatas harus saling bekerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan pancasila, agar karakter generasi muda kita saat ini dapat terbentuk sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Karena generasi muda merupakan aset penting dan penerus bangsa, maka generasi muda kita harus memiliki moral yang baik, melalui penanaman nilai pancasila lah hal itu dapat terwujud.

Secara logika, bagaimana suatu bangsa dapat maju jikalau generasi mudanya saja tidak memiliki karakter atau moral yang baik, lalu bagaimana dengan nasib bangsa ini? tentu cita-cita dan tujuan bangsa tidak akan tercapai. Untuk itu perlunya antispasi melalui edukasi dan pengawasan pada generasi muda kita saat ini agar dapat memilah mana dampak yang baik dan buruk dari arus globalisasi, sehingga generasi muda kita dapat mewujudkantujuan dancita-cita mulia bangsa Indonesia tercinta ini.

Oleh : Firdaus 

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi, FKIP UNTIRTA, Serang, Banten


No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.