Header Ads

Kekerasan dan Perempuan Dalam Perspektif Gender


Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik kaum laki-laki dan terutama kaum perempuan.

Ketidakadilan gender terwujud dalam berbagai bentuk ketidakdilan, yakni : marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi, pembentukan stereotype atau melalui pelebelan negatif, kekerasan, dan beban kerja ganda. Ketidakdilan gender yang saat ini banyak terjadi oleh kaum perempuan adalah kekerasan, pelecehan sesksual terhadap perempuan yang terjadi dimana-mana. Korbannya pun dari berbagai usia. 

Dalam perspektif gender, kekerasan selalu ditujukan kepada perempuan. Atau dengan kata lain perempuan selalu identik dengan korban kekerasan. Hingga saat ini kekerasan terhadap perempuan terus terjadi.  Kekerasaan artinya tindak kekerasan, baik secara fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau Negara terhadap jenis kelamin lainnya. 

Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki dianggap maskulin. Dan ciri ini mewujudkan dalam ciri-ciri psikologis dimana laki-laki lebih dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya.

Sedangkan perempuan dianggap lemah, lembut, cerewet, dan lain-lain. sebenarnya tidak ada yang salah dengan perbedaan ciri-ciri psikologis tersebut, namun dari perbedaan karakter tersebut dapat melahirkan tindak kekerasan. Dengan beranggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, yang berupa tindak kekerasan.  Pada dasarnya, kekerasan gender disebabkan oleh ketidak setaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat.

Pelecehan seksual sendiri artinya jenis kekerasan yang terselubung dengan cara memegang atau menyentuh bagian tubuh tertentu dari tubuh korban (perempuan) tanpa adanya rasa kerelaan dari sipemilik tubuh tersebut. Contoh kasus pelecehan seksual yang terjadi di Kecamatan Cikeusal, Kab.Serang pada 30/11/2017. Dimana hanya karena cinta nya ditolak oleh korban, pelaku nekat memperkosa dan membunuh si korban. Kasus pelecehan seksual lainnya yang baru terjadi,  kejadian yang terjadi di JalanTalud, Medan, Sumatera Utara pada kamis (19/04)  pada pukul 17:16. Seorang pria menaiki sepeda motor tengah berjalan dengan santai. Namun, saat bertemu dengan dua orang pelajar yang tengah berjalan kaki, pelaku lantas memutar balik dan menunggu korbannya berjalan melewatinya. Saat dua pelajar itu lewat, sipelaku langsung meremas salah satu payudara pelajar tersebut dan langsung pergi. Sementara korban yang terkejut hanya bisa terdiam sambil menatap kepergian pelaku. Dari contoh tersebut sudah membuktikan bahwa pelecehan sudah menjadi momok yang menakutkan bagi setiap perempuan.

Dengan demikian, bila kita memikirkan jalan keluar, pemecahan masalah gender perlu dilakukan secara serempak. Pertama-tama perlu upaya-upaya yang dapat memecahkan masalah-masalah ketidak adilan tersebut. Untuk menghentikan masalah pelecehan seksual dan berbagai kekerasan terhadap kaum perempuan, kaum perempuan sendiri harus memberikan pesan penolakan secara tegas kepada mereka yang melakukan kekerasan dan pelecehan seksual agar tindakan kekerasan dan pelecehan tersebut terhenti.

Seperti tanggal 8 maret 2018 yang diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional, para perempuan disejumlah Negara termasuk Indonesia, menyerukan tuntutan mereka sebagai perempuan, dan meminta agar kekerasan dan pelecehan sesksual terhadap perempuan tidak terjadi lagi. Karena membiarkan dan menganggap pelecehan dan kekerasan sebagai hal yang biasa berarti mengajarkan dan bahkan mendorong para pelaku untuk melakukan kekerasan dan pelecehan tersebut. Pelaku pelecehan seringkali salah kaprah bahwa ketidak tegasan penolakan dianggapnya karena diam-diam perempuan juga menyukainya, padahal tidak sama sekali.

Oleh : Baety Purnama Suky
Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Sosiologi FKIP Untirta, Serang, Banten



No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.