Header Ads

Fenomena Kekerasan Terhadap Perempuan di Angkutan Umum


Perempuan sebagai makhluk yang seharusnya di sayangi dan dilindungi, justru menjadi objek kekerasan yang dilakukan oleh para laki-laki. Menurut feminis, kekerasan terhadap perempuan sama dengan kekerasan yang berbasis gender. Gender sendiri diartikan sebagai suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun kaum perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun cultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan. Sementara laki-laki di anggap kuat, rasional, jantan, perkasa. Kekerasan berbasis gender ini merupakan hasil bentukan interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat patriaki.

Patriaki merupakan sistem yang didominasi dan dikuasi oleh laki-laki  melekat di masyarakat merupakan salah satu yang menyebabkan bahwa derajat laki-laki itu tidak sama dengan perempuan. Laki-laki derajatnya lebih tinggi dari perempuan, dari pernyataan tersebut, timbulah anggapan bahwa perempuan itu lemah, cengeng, feminin, sedangkan laki-laki itu kuat.

Kekerasan adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. Kekerasan terhadap perempuan mencakup setiap perbuatan kekerasan atas dasar perbedaan kelamin, dapat mengakibatkan kerugian atau penderitaan terhadap perempuan, baik fisik, seksual maupun psikhis, termasuk ancaman perbuatan tersebut, paksaan dan perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi dalam kehidupan yang bersifat public maupun privat.

Kejahatan atau kekerasan bisa terjadi dimanapun termasuk di dalam angkutan umum. Hal tersebut terjadi apabila situasi angkutan umum tersebut tidak banyak penumpang. Bisa jadi antara supir dan pelaku bekerja sama untuk melakukan kejahatan seperti melakukan pencurian dan lain sebagainya.

Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dalam catatan tahunannya menunjukkan, jumlah kekerasan seksual pada tahun 2017 yang terjadi di ranah personal ada 3.945 kasus. Atau memenuhi 34% dari keseluruhan bentuk kekerasan terhadap perempuan (KtP), yang meliputi kekerasan fisik, psikis, dan ekonomi.

Contoh kasus Kekerasan terhadap perempuan :

Intan Aryo Ningtyas, Mahasiswi Untirta mengalami kekerasan didalam angkutan umum. Kragilan, Kabupaten Serang. Di dalam angkutan umum tersebut hanya terdapat supir, penumpang yang duduk disebelah supir dan diri nya. Seketika tiga orang laki-laki masuk ke dalam angkutan umum tersebut.

Intan mengalami tamparan di pipinya dan mengalami memar dibagian matanya karena ketiga laki-laki tersebut merasa gagal untuk mengambil Hanphone miliknya.

Dalam contoh kasus kekerasan diatas termasuk kedalam kekerasan langsung yang dimana dapat dilihat pada kasus-kasus pemukulan seseorang terhadap orang lainnya dan menyebabkan luka-luka pada tubuh. Suatu kerusuhan yang menyebabkan orang atau komunitas mengalami luka-luka atau kematian dari sebuah kelompok lainnya juga merupakan kekerasan langsung. Ancaman atau teror dari satu kelompok yang menyebabkan ketakutan dan trauma psikis juga merupakan bentuk kekerasan langsung. Dalam kekerasan langsung ada hubungan subjek – tindakan-objek seperti kita lihat pada seseorang yang melukai orang lain dengan aksi kekerasan (Gultung, 1990).

Menyikapi Fenomena Kekerasan Terhadap Perempuan

Secara umum, tindakan kekerasan sangat tidak diinginkan oleh siapapun karena dapat merugikan pihak korban dan orang lain. Kekerasan yang saat ini banyak ditemukan di lingkungan sekitar merupakan masalah sosial dan kemanusiaan yang sangat perlu diperhatikan. Di mana-mana kini berjatuhan korban tindak kekerasan yang umumnya kalangan perempuan yang menjadi korban.

Berbagai tindak kekerasan yang sering terjadi dan menimbulkan korban di kalangan perempuan seperti a) tindak kekerasan seksual; b) tindak kekerasan yang menimbulkan luka berat dan traumatis; c) tindakan kekerasan yang menimbulkan kematian.

Tindakan kekerasan akan berdampak pada kurangnya rasa percaya diri, menghambat kemampuan perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, mengganggu kesehatannya, hilangnya kepercayaan diri atau trauma, dan menganggu pertumbuhan jiwanya.


Pencegahan dan Penanganan

Kaum perempuan yang mengalami tindakan kekerasan seperti di angkutan umum harus bisa lebih waspada, janganlah sesekali menaaiki angkutan umum yang sepi carilah angkutan umum yang ramai sehingga bisa menghindari tindakan kejahatan atau kekerasan.  Lakukan penolakan seperti membela diri. Hal lain yang bisa di lakukan oleh kaum perempuan seperti mempelajari berbagai teknik guna menghentikan kekerasan. Misalnya mulai membiasakan diri menacatat setiap kejadian di buku harian, termasuk sikap penolakan atau membela diri dan respon yang diterima, secara jelas kapan dan dimana. Catatan seperti itu kelak akan berguna jika peristiwa tersebut ingin diproses secara hukum.

Usaha seperti menyuarakan uneg-uneg ke kolom “surat pembaca” perlu diintensifkan. Usaha ini tidak saja memiliki dimensi praktis jangka pendek tetapi juga sebagai upaya pendidikan dengan cara kampanye anti kekerasan terhadap kaum perempuan bagi masyarakat luas.

Oleh : Nalaratih

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
 PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNTIRTA



No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.