Header Ads

Eksistensi Warung Tegal di Bulan Ramadhan


Perubahan kehidupan masyarakat akan terus bergerak dan melaju dengan lambat dan cepat, sampai menuju kearah tujuan titik terakhir dari perubahan itu. Bahkan sebaliknya tidak adanya titik yang akan dijadikan tujuan dari perubahan tersebut.

Perubahan dalam masyarakat mampu mengangkat dan menurunkan sebuah eksistensi segala aspek yang menjamur dan sudah lama berada serta melekat dalam masyarakat. Termasuk eksistensi pada tempat-tempat yang begitu dikenal oleh khalayak publik sejak dulu sampai sekarang.

Begitu banyak tempat yang dianggap nyaman oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, terutama dalam pemenuhan kebutuhan primernya itu makan dan minum.Manusia dalam waktu 24 jam lebih banyak melakukan aktivitas seharian diluar rumahya itu tempat kerja. Sehingga begitu banyak juga energi yang dikeluarkannya. Pemulihan pada masalah yang dirasakan manusia sudah pastinya mengkonsumsi energi lagi dengan makan dan minum.

Makanan dan minuman yang dicari oleh manusia adalah makanan dan minuman yang mempunyai manfaat dan gizi yang seimbang. Bukan hanya hal tersebut yang dicari, akan tetapi harga yang murah, rasanya enak, sajian yang banyak di piring yang membuat kenyang setelah memakannya.

Adapun tempat makan tersebut salah satunya Warung Tegal (warteg). Warung Tegal (warteg) merupakan tempat makan yang begitu merakyat dalam setiap kalangan, yang begitu pas dalam harga konsumen dan mengenyangkan. Warung Tegal (warteg)dari dulu sampai sekarang dikenal sudah marak ada dilingkungan masyarakat, dan dikenal sebagai tempat makan yang mempunyai ciri khas tersendiri seperti masakan padang dan masakan lainnya yang populer ada dimasyarakat dari Sabang sampai Merauke.

Dengan perekembangan zaman dan perubahan yang semakin mengarah pada kemodernisasian, terutama di Era Milenial ini membuat eksistensi Warung Tegal (warteg) menjadi turun, dan sedikit masyarakat masuk untuk mampir dan menikmati sajian yang ada didalamnya. Terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini masyarakat lebih suka mengadakan makan-makan dan buka bersama dengan keluarga, sahabat, teman dan pacar di rumah makan yang mempunyai eksistensi yang tinggi didunia makanan dan pastinya begitu dikenal dilingkungan masyarakat dan media sosial.

Eksistensi Warung Tegal (warteg) di bulan Ramadhan ini begitu turun dan kurang diminati oleh para masyarakat. Mengapa demikian, karena masyarakat kini lebih tertarik mengkonsumsi makanan dan minuman yang berbeda dari sebelumnya, dan lebih memilih tempat yang memiliki eksistensi yang tinggi dan menarik untuk diabadikan dalam media sosial.

Bukan hanya itu, masyarakat lebih memilih tempat yang luas dan nyaman untuk bercengkrama dan ngobrol dengan waktu yang lama tanpa adanya gangguan seperti halnya buka bersama dirumah.

Kenapa semua hal tersebut dapat terjadi? Karena di Era Milenial sendiri banyak sekali tempat-tempat makan yang mempunyai sesuatu yang menarik didalamnya. Mulai dari tempatnya yang strategis, desain yang menarik, kualitas dan kuantitas dari pelayanan, serta harga yang terjangkau dan sesuai dengan isi  dompet.

Salah satu penyebab turunnya eksistensi Warung Tegal  (warteg)  adalah karena kurang meningkatnya kreativitas rasa, varian makanan yang selalu itu-itu saja dan tempat yang begitu nyaman dan menarik.

Padahal, ada banya hal yang bisa dilakukan para pengusaha makanan dan minuman agar eksistensi usahanya tetap stabil, tidak turun dalam selera masyarakat dan dilupakan begitu saja. Mereka para pengusaha selalu membangun semangat dan kerja keras dalam menciptakan sebuah inovasi dan kreativitas yang tinggi, serta dikembangkan sesuai selera masyarakat dan pastinya menyesuaikan dengan perkembangan zaman, terutama di Era Milenial.

Untuk itu, Warung Tegal harus lebih semangat dalam menciptakan berbagai inovasi dan kreativitas yang begitu menarik dan menggoda masyarakat. Termasuk dalam inovasi masakan yang jangan itu-itu saja, membuat inovasi dalam rasa, dan inovasi serta kreativitas dari tempat dengan adanya tambahan dekorasi yang berbeda, menarik dan membuat masyarakat nyaman.

Meskipun dari harga ada kenaikan sedikit. Karena jika terlalu besar dari yang biasanya tidak menutup kemungkinan akan mengalami kerugian atau kurang laku dari biasanya.

Oleh: Khumaerotul Jannah
Penulis adalah Prodi Pendidikan Sosiologi, FKIP UNTIRTA, Ciwaru



No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.