Header Ads

Bias Persepsi Antara Seks dan Gender di Masyarakat


Ketika membahas tentang seks yang terpikir oleh masyarakat adalah hal tabu dan tidak selayaknya dibicarakan di khalayak umum. Kenyataanya dalam keilmuan hal itu merupakan sesuatu yang wajar dan biasa dikaji oleh para peneliti. Karena seks oleh masyarakat hanya dianggap sebagai sebuah kegiatan hubungan suami istri. Padahal dalam arti lain, seks mengacu kepada pembagian jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Dalam bidang sosial seks sering dikaitkan dengan gender sebagai sebuah bentuk korelasi yang berbeda bentuk dan sifatnya.

Seks atau yang biasa disebut jenis kelamin oleh masyarakat merupakan sifat dan pembagian dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan yang ditentukan secara biologis. Semisal laki-laki memiliki alat reproduksi berupa penis dan sperma, memiliki jakun di lehernya, memiliki kumis dan janggut yang lebat, dsb. Dan perempuan memiliki alat reproduksi berupa rahim, vagina, dan mempunyai alat untuk menyusui. Sedangkan Gender merupakan sifat yang melekat dalam diri laki-laki dan perempuan yang dikontruksikan secara sosial dan kultural oleh masyarakat. Semisal laki-laki itu harus kuat, jantan, rasional. Dan perempuan dikenal esmosional, lembut, keibuan, dsb.

Dari hal tersebut jelas bahwa seks tidak dapat dipertukarkan. Karena melekat pada diri manusia untuk selamanya. Sedangkan gender masih bisa dipertukarkan antara si laki-laki dengan si perempuan. Semisal ada laki-laki yang lemah lembut dan emosional serta ada pula perempuan yang bersifat keras dan rasional.

Terdapat kesalahan persepsi dalam masyarakat. Dimana kodrat tuhan atau dalam hal ini seks menurut masyarakat malah dianggap sebagai gender. Sehingga terdapat persepsi yang tertukar. Hal itu terjadi sudah sejak lama dan terkonstrusikan dalam diri masyarakat tentang hal tersebut. Dalam dunia pendidikan contohnya pada pembelajaran sekolah dasar, yang ditanamkan adalah pola ibu pergi ke pasar dan ayah pergi ke kantor.

Di setiap materi tentang keluarga terdapat peran bahwa sang ayah haruslah bekerja di luar untuk mencari nafkah sedangkan sang ibu harus di rumah mengurusi anak dan rumah tangga. Padahal bisa saja ada ibu yang bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah serta ada ayah yang bekerja di dalam rumah untuk mengurusi rumah tangga.

Dalam struktur kepemimpinan sebuah organisasi juga misalnya tidak bisa lepas dari adanya konstruksi gender yang salah. Dimana ketua atau kepala kepemimpinan haruslah dipegang oleh laki-laki. Dan perempuan hanya boleh memegang peranan yang membantu struktur tersebut. Contohnya sebagai bendahara atau sekretaris. Padahal perempuan bisa saja menjadi pemimpin yang lebih daripada laki-laki dalam beberapa hal.

Gender merupakan sebuah kontruksi pola pikir masyarakat yang umumnya berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Oleh karena itu pandangan tentang gender yang bias harus bisa direkonstruksi kembali dan di seragamkan. Di sinilah pendidikan berperan sangat besar untuk mengubah pola dan persepsi tersebut. Lembaga Pendidikan harus menumbuhkan wawasan dan kesadaran mengenai seksdan gender melalui beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain dengan mengadakan berbagai kegiatan seperti diskusi, pemutaran film,kegiatan yang mengarah pada kepedulian pada masyarakat,sosialisasisertapenanamannilai-nilaiseksdan gender sejakdinidll. Kegiatan tersebut harus dilakukan atas kesadaran penuh untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat.

Oleh: Vicky Ade Saputra
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi, FKIP UNTIRTA, Serang, Banten.


No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.