Header Ads

Fundamental K-Pop di Kalangan Remaja

Novinta Dewi (Foto Dok Pribadi)                               
Sering dengar istilah K-Pop atau Korean Pop? Pastinya sudah tidak asing lagi dengan K-Popers atau Korean Lovers julukan bagi para penggemar K-Pop. Beberapa tahun belakangan ini, fenomena K-Pop atau Hallyu Wave sedang marak terjadi di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan bertambah banyaknya penggemar atau yang kerap disapa dengan K-Popers.  Dan kini, Indonesia menjadi salah satu negara terbesar yang menjadi pasar musik K-Pop setelah terjadinya krisis antara Korea Selatan dengan China.

Hallyu wave merupakan gelombang kebudayaan yang berasal dari negara Korea Selatan. Hallyu atau lebih akrab disebut K-Pop yang sudah berhasil membawa musik Korea sampai ke manca negara baik di Asia bahkan sampai ke Eropa dan Amerika.

Untuk menjadi seorang K-Idol sebelumnya kita harus menjalani masa trainee selama beberapa tahun terlebih dahulu sebelum debut menjadi idol. Dan mengikuti masa trainee juga tidak semudah kedengaranya. Saat menjalani masa trainee kkita harus mengikuti seluruh aturan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, kita juga harus latihan belasan jam sehari untuk latihan vokal dan juga latihan dance karena untuk menjadi K-Idol  kkita harus bisa keduanya karena itulah ciri khas utama seorang K-Idol yaitu menyanyi sambil menari.

Jika kita sudah membahas mengenai Idol, maka kita tak bisa lepas dari dukungan para penggemarnya yang senan tiasa mendukung idolanya untuk dapat meraih kesuksesan seperti saat ini. Tak sedikit dari para penggemar yang sangat berlebihan dalam mengagumi idolanya, sehingga karena hal itu tak jarang terjadi Fanwar atau dengan kata lain Fandom War yaitu perang yang terjadi antar fandom. Hal itu dikarenakan kecintaan mereka kepada bias nya masing-masing. Saling meninggikan, mengagungkan dan mendewakan bias nya sampai-sampai memandang rendah idol orang lain. Mereka tidak terima jika ada idol lain yang lebih berprestasi daripada idol mereka. Sehingga mereka saling ejek di sosial media yang mengundang pertengkaran antara fandom.

Mayoritas para pecinta Hallyu di Indonesia masih duduk di bangku sekolah. Mereka yang menggemari Hallyu biasanya selalu update mengenai perkembangan idolanya setiap hari melalui Social Media yang mereka akses. Karena kecintaanya terhadap sang idola juga, mereka rela menghabiskan banyak kuota untuk streaming You Tube, stalking info bias di Social Media sampai tak ingat waktu.

Dengan adanya perubahan emosi yang tejadi pada remaja, hal tersebut menyebabkan mudahnya emosi mereka tersulut hanya karena hal yang sepele. Karena tidak terima idolanya direndahkan oleh orang lain, mereka rela membela idolanya mati-matian dengan balik menyerang idola orang lain dengan mencari kelemahan yang terdapat pada diri idola orang lain dan merendahkannya di media sosial mereka. Maka hal itu semakin memicu terjadinya fanwar yang tiada hentinya.

Dalam kasus ini, fandom yang paling sering bertengkar atau fanwar ialah Exo-L (penggemar EXO) dan Army (penggemar BTS). Bagi orang-orang yang menyukai K-Pop pasti tidak asing dengan kedua fandom ini yang dikenal sebagai rival abadi. Selain Exo-L dan Army ada juga Sone dan Once yang saling memperebutkan julukan Nation Girl Group untuk idolanya. Jika kalian merupaka seorang K-Popers dari era generasi kedua, maka kalian pasti tahu jika julukan Nation Girl Group pertama kali disematkan oleh masyarakat Korea kepada SNSD karena kesuksesannya yang menyebar pesar di Asia, dan menjadi awal bangkitnya era Girl Group pada saat itu. Akan tetapi saat ini menjadi perebutan karean Once (fans Twice) beranggapan jika era SNSD kini sudah habis dan digantikan oleh Twice. Tentu saja hal tersebut ditentang oleh Sone (fans SNSD) dan sebagian besar fandom dari Idol senior, karena julukan itu sudah disematkan pada SNSD selama kurang lebih 10 tahun. Belum lagi isu plagiat yang sempat menyebar menambah daftar alasan perkelahian mereka.

Dalam dunia per-fandoman sendiri, terbagia dua macam fans, (1) Mature fans, yaitu fans yang bersikap dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan yang menerpa fandom atau idolanya. Biasanya mature fans tidak mudah tersulut emosi meskipun terus terusan dipancing oleh pihak lain agar terjadi fanwar.

Dan kebanyakan dari mature fans menjadi penengah dari setiap perkelahian/perselisihan atau bahkan memilih untuk tetap diam dan tidak berurusan dengan masalah seperti itu, karena yang terpenting bagi mereka adalah mendukung para Oppa dengan segenap cinta yang mereka miliki sehingga tidak ada waktu untuk fanwar. (2) Immature fans, adalah jenis fans yang bersifat kekanakan. Penganut paham “Oppa is mine! Berani senggol Oppa gue bacok”.

Jenis fans inilah yang menyebabkan sering terjadinya fanwar. Selalu memancing pihak lain untuk adu jotos dengan mennjelek-jelekan idola lain. Pihak yang selalu tidak senang jika ada idol lain yang lebih ‘Waw’ daripada Oppa-nya.

Hal seperti itulah yang menarik perhatian saya untuk membuat tulisan ini. Karena fanatisme mereka terhadap Kebudayaan Korea khususnya para Oppa – oppa menimbulkan efek fundamentalisme atau pengkultusan terhadap sesuatu selain Tuhan. Mereka yang terlalu mengagungkan Oppa hingga kehilangan akal sehatnya. Beranggapan jika Oppa mereka yang paling hebat dan selalu dianggap benar. Idol juga hanya  seorang manusia yang tak luput dari kesalahan. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi para ‘fans garis keras’. Jika idolanya terkena skandal, mereka tidak dapat menerima hal tersebut.

Mereka malah mencari tahu sosok yang dapat mereka jadikan kambing hitam dan membela Oppa-nya mati-matian dan bersikeras jika Oppa-nya tidak salah, yang bersalah adalah si A karena telah mempengaruhi si Oppa.

Maka dari itu, hendaknya kita harus mawas diri dalam menyukai suatu kebudayaan yang datang dari luar. Jangan biarkan kebudayaan asing menggerus moral kita dalam kehidupan bersosial. Kita boleh menyukai sesuatu, tetapi harus dalam batas wajar. Karena fanatik juga tidak bagus bagi kesehatan hati dan pikiran.

Oleh : Novinta Dewi

Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa



No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.