Header Ads

Puasa Kawalu, Tradisi Masyarakat Baduy Menjaga Adat Leluhur

Masyarakat adat Baduy memegang teguh tradisi yang diturunkan nenek moyang mereka secara turun temurun. Salah satu tradisi yang dilaksanakan yakni puasa Kawalu. Puasa tersebut dilaksanakan tiga kali. Tujuannya membersihkan hati agar kembali suci.

BantenPost.Com | Suasana di Kampung Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar tampak lengang. Beberapa pedagang, tukang ojek, dan sopir angkutan umum beristirahat di warung-warung warga yang terletak di sekitar Terminal Ciboleger. Mereka asyik mengobrol sambil menikmati hidangan kopi hitam yang menjadi produk Baduy. Tidak ada aktivitas mencolok yang dilakukan masyarakat Baduy. Beberapa warga tampak hanya berdiam diri di pelataran rumah.

Selama tiga bulan terakhir, jumlah kunjungan wisatawan ke Baduy mengalami penurunan. Biasanya, tiap akhir pekan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia mengunjungi komunitas adat yang terletak di kaki gunung Halimun tersebut. Namun, selama puasa Kawalu, jumlahnya menurun drastis. Bahkan, pada hari biasa jarang ditemukan wisatawan yang datang ke Baduy. Ditambah lagi, masyarakat Baduy memilih berdiam diri di rumah.

“Selama tiga bulan, masyarakat atau wisatawan dilarang memasuki wilayah adat Baduy Dalam. Namun, mereka tetap bisa berkunjung ke Baduy Luar,” kata Kades Kanekes Jaro Saija kepada Radar Banten, Senin (2/4).

Kepala desa pemerintah yang menggantikan Jaro Dainah tersebut menjelaskan, masyarakat Baduy memiliki kewajiban layaknya umat beragama lain. Mereka diwajibkan melaksanakan ajaran leluhur, mulai dari puasa Kawalu, Seren Taun, dan Seba Baduy. Rangkaian kegiatan adat tersebut dilakukan secara rutin setiap tahun. Untuk puasa Kawalu sendiri, warga Baduy yang telah dewasa atau yang telah dikhitan wajib melaksanakan puasa tersebut.

Puasa dilaksanakan tiga kali dalam tiga bulan dan kemarin merupakan puasa yang ketiga kali yang dilaksanakan masyarakat Baduy. Selama puasa, masyarakat Baduy Luar maupun Baduy Dalam tidak beraktivitas. Mereka lebih memilih berdiam diri di rumah dan menghindari dari perbuatan yang dilarang oleh pemangku adat.

“Puasa ini sebenarnya enggak jauh beda dengan puasa yang dilakukan orang di luar Baduy. Sebelum puasa, warga Baduy harus membersihkan diri terlebih dahulu (mandi keramas-red). Keesokan harinya, baru mereka melaksanakan puasa,” terangnya.

Puasa Kawalu yang dilaksanakan masyarakat Adat Baduy bertujuan untuk membersihkan hati agar kembali suci. Kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat adat terhadap limpahan karunia Tuhan yang telah diberikan kepada warga Baduy. Selama setahun terakhir, mereka diberikan hasil panen yang melimpah dan nikmat kesehatan.

“Setelah melaksanakan puasa Kawalu, kita akan melakukan kegiatan Seren Taun. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Baduy Luar dan Baduy Dalam,” ungkap Saija usai menyerahkan surat pemberitahuan Seba Baduy ke Pemkab Lebak.

Pada upacara Seren Taun, masyarakat Baduy disensus dan tidak boleh ada yang tertinggal satu pun. Di sana, mereka melakukan ritual sebagai bentuk syukur atas limpahan hasil panen yang diberikan Tuhan kepada masyarakat. Hasil panen diolah menjadi makanan dan dinikmati bersama pada kegiatan seren taun tersebut.

“Usai Seren Taun, kita akan melakukan ritual Seba Baduy kepada Bapak Gede di Lebak dan Pemprov Banten,” jelasnya.

Pada upacara Seba Baduy, ribuan masyarakat Baduy akan turun gunung menyerahkan hasil bumi kepada Bapak Gede. Seba Baduy tahun ini akan dilaksanakan pada 20 April 2018.

“Tradisi yang kami lakukan merupakan warisan leluhur yang telah dilaksanakan ratusan tahun. Kami berharap, tradisi tersebut dapat bertahan dan akan terus dipertahankan, karena kekayaan budaya lokal di Lebak,” ungkapnya.

Harja, warga Baduy Luar mengatakan, puasa Kawalu wajib dilaksanakan masyarakat Baduy yang telah dewasa. Mereka memanjatkan doa untuk kesejahteraan dan keselamatan masyarakat Baduy, bangsa, dan negara. Untuk itu, warga Baduy yang puasa lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Mereka berdoa untuk membersihkan hati agar kembali suci.

“Puasa Kawalu merupakan kewajiban bagi warga Baduy. Tradisi tersebut dilaksanakan secara turun temurun dan diyakini dapat membersihkan hati serta jiwa masyarakat Baduy,” tandasnya.

Setelah puasa Kawalu, warga Baduy akan mengikuti ritual adat lainnya yakni Seren Taun dan Seba Baduy. Seren Taun dilaksanakan di wilayah adat Baduy, sedangkan Seba Baduy dilaksanakan di pendopo Bupati Lebak, Pandeglang, Serang, dan Pemprov Banten. “Tradisi tersebut diyakini akan memberikan keberkahan dan keselamatan bagi masyarakat. Bahkan, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan,” tukasnya. (Mastur)


No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.