Header Ads

Mendidik dengan Kasih Sayang


Semua orang berhak mendapatkan cinta dan diberikan kebebasan untuk mencintai sesamanya. Teringat pesan dari seorang pengajar di salah satu perguruan tinggi Islam di Banten yang mengajar dalam bidang tafsir Quran, beliau mengatakan “orang yang cinta pastilah akan banyak menyebut-nyebut orang yang dicintainya”. Ya, orang yang mencintai sesuatu atau cinta terhadap sesama manusia, pasti akan teringat, terbayang, bahkan akan selalu disebut-sebut namanya. Kita ingat sebuah lagu yang masih populer pada masa itu, orang yang cinta, ketika akan makan pasti akan teringat, ketika akan mandi pasti teringat, ketika akan tidur pasti teringat, dan apa aja bentuknya pasti akan teringat.

Cinta bukan hanya diperuntukan kepada sepasang kekasih lawan jenis yang sedang dimabuk asmara ataupun sedang memadu kasih. Apa yang kita rasakan kita apabila sedang merasakan jatuh cinta? Ya, seakan dunia hanya milik dua sejoli, hidup seakan bahagia selamanya. Dan efeknya bisa membuat kita seakan menjadi gila cinta, senyum-senyum sendiri tidak jelas dan ngelantur.

Cinta memang perlu diterapkan ketika mendidik dan mengajar kepada sang buah hati. Cinta bukan hanya untuk orang pacaran saja, ketika mendidik anak pun harusnya memperlakukan dengan penuh kasih sayang, perhatian dan menjaganya. Pengalaman orang yang sedang memadu kasih, biasanya selalu menanyakan kabar tiap waktu, misalnya sudah makan belum, kenapa belum makan, nanti kalau sakit bagaimana. Ya, itu pertanyaan untuk orang-orang yang sedang dilanda cinta yang berlebihan, bahasanya gaulnya lebay.

Jika saja orangtua mendidik dan mengajar anak dengan cinta, yakinlah kekerasan dalam rumah tangga tidak akan pernah menghampiri. Ujian dalam mengarungi bahtera rumah tangga bisa diatasi. Orangtua sering mengingatkan kepada kita untuk tidak tinggal salat, orangtua bahkan sampai marah kepada anaknya untuk menyuruh salat. Apa alasannya? Orangtua seperti itu adalah orangtua yang cinta kepada anaknya, orangtua takut kelak sang anak disiksa di neraka, itu sebabnya orangtua marah kepada anak bukan karena tidak sayang.

Maraknya kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kepada anak disebabkan oleh beberapa alasan, mulai dari ekonomi yang semakin sulit membuat anak menjadi sasaran orangtua. Kita contohkan, anak kecil yang biasanya suka dengan jajan, jika dihentikan budaya jajannya secara sepihak oleh orangtua. Si anak pasti akan kesal dan menangis, tidak mau pusing, sang orangtua pasti akan memarahi anak yang akhirnya bisa melampaui batas kemanusiannya. Ada lagi orangtua yang belum siap menjadi orangtua. Menjadi orangtua harusnya mempunyai kesabaran sekuat baja, ketika prilaku anak belum sesuai dengan apa yang diharapkan, tentu bisa memancing kemarahan yang bisa berujung pada tindak kekerasan. Sebagai orangtua tidak bisa gegabah mengambil tindakan, memarahi apalagi sampai menyakiti bukanlah cara mendidik yang semestinya dilakukan. Terkecuali orangtua marah ketika anak diperintahkan salat dan ibadah lainnya tidak mau, orangtua boleh memberikan teguran dengan cara yang beradab dan memanusiakan manusia.

Salah satu solusi melindungi anak dari kekerasan adalah dengan metode yang jeli yang dilakukan orangtua. Mendidik anak bukan hanya menuruti apa yang dilontarkan lewat lisan orangtua lalu dilakukan oleh anak. Tidak cukup mendidik jika hanya orangtua berbicara tetapi tidak lakukan. Mendidik ya sama saja yang mendidik harus melakukan. Yang tepat dalam mendidik anak adalah dengan kasih sayang. Anak akan senang jika disayang oleh orangtua, disayang bukan berarti dimanja, segala kemauannya dturuti laksana raja. Mendidik dengan kasih sayang berarti mendidik dengan cinta, siapa yang cinta kepada sesuatu pastinya akan selalu teringat dan terbayang. Maksud cinta di sini adalah mendidik dengan lembut, berbicara dan mengajari anak secara halus tanpa menyakiti secara verbal. Mendidik anak hingga nangis memang ada baiknya, sehingga anak menuruti nasihat orangtua. Namun, tidak semua anak bisa menerima dengan baik. Bagimana jika anak malah tidak menuruti, mungkin orangtua akan mengambil langkah tegas dengan melakukan yang membuat perkembangan anak terhambat. Misalnya dengan memukulkan tangan orangtua ke meja ataupun pintu yang pada akhirnya anak akan dibuat kaget dan shock.

Buatlah rasa nyaman ketika mendidik anak, didiklah dengan kasih sayang. Dengan sayang, anak tidak akan merasa takut sekalipun didikan itu tegas. Misalnya jika anak tidak mau belajar, maka tidak akan diberikan jajan ataupun fasilitas yang enak-enak akan dicabut. Bukan malah memarahi dan membentak sehingga anak mau belajar, sang anak memang belajar tetapi keadaan yang tidak nyaman. Ya, membentak dengan nada keras sama dengan menyakiti secara verbal, namun itu dikembalikan maksud orangtuanya. Terkadang hanya dengan memarahi anak, baru akan nurut. Namun, pintar-pintarlah dalam mendidik anak. Sebab, anak adalah penerus yang akan mewarisi orangtua dan juga negara. Maka didiklah dengan sebaik-baik mungkin yang menurut kita pantas untuk dilakukan. (*)

OLEH : MUMTAZ ZAN
Penulis adalah Pengajar di PPTQ Kaffah Serang Banten

No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.