Header Ads

Pilkada Banten 2018: Siswa Mencoblos



OLEH : MUMTAZ ZAN

Pilkada serantak yang akan berlangsung Juni 2018 tidak hanya milik segelintir orang, seperti orangtua, pejabat dan orang-orang tertentu. Pilkada adalah pesta semua rakyat, tentu semua rakyat boleh terlibat baik sebagai pemilih ataupun pendukung karena alasan umur yang belum memenuhi. Bagi siswa tentu saja mempunyai kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya lewat mencoblos di bilik suara TPS. Namun, tidak semua siswa bisa ambil bagian untuk menjadi pemilih. Seperti siswa TK, SD dan SMP. Umumnya, siswa yang menjadi pemilih adalah siswa setingkat SMA/MA/SMK yang sudah memenuhi syarat, diantaranya adalah soal umur. Namun, jika ada siswa di bawah SMA yang sudah mencapai umur untuk memilih, maka itu tidak menutup kemungkinan untuk menjadi pemilih.

Siswa yang memilih biasanya adalah pemilih pemula, seperti siswa yang duduk di bangku kelas 2 dan 3 SMA. Namun, ada kemungkinan siswa di bawahnya bisa terlibat untuk memilih dengan faktor umur yang setara kelas di atasnya. Sebelum menjadi pemilih pemula, biasanya guru dan pihak KPU setempat mensosialisasikan tentang keikutsertaan dalam Pilkada. Pihak KPU selalu mewanti-wanti khusunya kepada siswa yang merupakan pemilih pemula. Sebagai pemilih pemula, tentu belum semua mengetahui peraturan dalam memilih pasangan calon. Mungkin mengetahui hanya sekadar obrolan dari teman ataupun orangtua yang sudah pernah menjadi pemilih sebelumnya.

Yang namanya pemilih pemula tentu masih rawan dengan ketidaktahuan soal tata cara memilih yang benar, sehingga mengurangi pemilih yang tidak mencoblos. Ataupun mencoblos seenaknya saja daripada tidak memilih sama sekali. Ketika siswa tidak memilih ataupun asal memilih bagi yang sudah mencapai umurnya, harus bersyukur karena diberikan kesempatan untuk memilih dengan baik. Karena tidak semua orang bisa memilih karena faktor umur.

Sekalipun pemula, memilihlah seperti pemilih cerdas yang berpengalaman. Jangan sampai kesempatan yang datang lima tahun sekali ini disia-siakan. Ya, terkadang siswa tidak memilih lantaran kurang menyukai calonnya. Siswa adalah orang yang terdidik yang setiap hari diberikan ilmu pengetahuan langsung dari gurunya. Seharusnya siswa malu apabila bersikap semaunya sendiri. Jadilah pemilih yang benar-benar tahu arti memilih pemimpin.

Mungkin sekarang siswa menjadi pemilih, bisa saja sepuluh tahun yang akan mendatang siswa itu sendiri yang bakal dipilih karena maju menjadi calon kepala daerah bahkan kepala negara.

Coba kita bayangan, apabila siswa diposisi calon kepala daerah, lalu setelah ditelusuri lebih lanjut banyak dari kalangan terdidik tidak mau memilih atau asal memilih, bagaiamana rasanya? Sekarang siswa menjadi pemilih, tapi ke depan siswa bisa jadi yang akan dipilih. Maka belajarlah untuk menjadi pemilih yang cerdas.

Siswa adalah masa depan bangsa, maka kurang tepat jika siswa sebagai pemilih pemula tidak bisa mencerminkan calon pemimpin masa depan. Dengan adanya bekal dari sekolah, seharusnya siswa lebih cerdas memilih pemimpin, bukankah siswa diajarkan tentang politik di sekolah? Tinggal bagaimana siswa tersebut memaksimalkan ilmu yang diajarkan di kelas oleh guru. (*)

*) Penulis adalah Mahasantri PP Al-Qur’an Mumtaz Kabupaten Serang Banten.

No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.