Header Ads

Korban Sodomi Babeh di Tangerang Alami Trauma


BantenPost.Com | Sejumlah anak yang menjadi korban sodomi wan Sutiono alias Babeh (50), warga Gunungkaler, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang alami trauma. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AK2B) Provinsi Banten Siti Maani Nina.

Ditemui di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Banten hari ini, Kamis (11/1), Nina menjelaskan, trauma terlihat dari sikap anak-anak pasca terjadinya perbuatan bejad tersebut.

“Ada yang tidak mau keluar rumah, ada juga yang terlihat perubaha sikap,” kata Nina kepada awak media.

Karena itu, lanjut Nina, pihaknya bersama psikolog, pemerhati anak, Polres Kabupaten Tangerang, dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) baik provinsi maupun Kabupaten Tangerang melakukan upaya trauma healing kepada korban.

Menurutnya upaya itu dilakukan agar anak-anak yang menjadi korban tidak lagi mengalami trauma dan bisa kembali berbaur dengan masyarakat.

“Sabtu nanti kita akan lagi ke lokasi dan memberikan trauma healing. Kita hibur anak-anak agar bisa melupakan kejadian itu,” papar Nina.

Dengan tindakan yang akan dilakukan pada Sabtu mendatang, menurut Nina berarti upaya trauma healing sudah dilakukan sebanyak tiga kali. Dan upaya ini akan terus dilakukan hingga korban sembuh dan kembali ke semula.

Nina sendiri mengutuk keras kejadian hal tersebut. Menurutnya, prilaku bejad yang dilakukan oleh tersangka sudah jauh melampaui batas wajar dan berakibat fatal bagi anak-anak yang menjadi korban.

Karena itu Nina berharap agar aparat penegak hukum bisa berbuat tegas dan mengganjar tersangka dengan hukuman yang setimpal.

Senada dengan Nina, sebelumnya, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengaku merasa miris mendengar kejadian tersebut. Bahkan Andika menilai perbuatan yang dilakukan oleh Babeh sangat biadab.

“Itu tidak bisa ditolerir lagi,” kata Andika kepada awak media setelah shalat Jumat di Masjid Raya Al Bantani KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Jumat (5/1).

Menurut Andika, atas dasar alasan apapun, pelaku harus dihukum seberat-beratnya karena perbuatan tersebut merupakan pelanggaran hukum yang sangat berat.

“Saya mendengarnya saja, tidak tega,” kata Andika sambil menggelengkan kepalanya.

Untuk diketahui, korban babeh bertambah menjadi 41 anak dari sebelumnya 25 anak. Jumlah itu membengkak setelah polisi berhasil mendeteksi korban lain.

Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan, awalnya hanya 25 anak yang mau melakukan visum setelah disodomi Babeh. Belakangan, korban lainnya berani muncul setelah polisi melakukan upaya pendekatan dan menjamin identitas korban tidak diungkap ke publik.

“Kami akan terus menyelidiki tersangka Babeh ini. Kemungkinan bisa bertambah lagi, tidak hanya 41 jumlahnya,” ucap Kapolda saat press release di Mapolresta Tangerang, Jumat (5/1).

Saat press release itu, tersangka Babeh dan barang bukti turut dipamerkan kepada publik. Kapolda mempersilakan orangtua atau korban melaporkan ke Polresta Tangerang bila menjadi korban Babeh. “Kami akan melindungi identitasnya. Jadi, jangan malu dan sungkan. Sebab, kejadian ini harus dicegah secepat mungkin,” imbuhnya.

Peristiwa sodomi, lanjut Sigit, sangat memprihatinkan. Para korban rata-rata berusia sepuluh sampai 15 tahun. Para korban terkena tipu daya tersangka lantaran tidak mengerti dan paham. “Komitmen kami akan memaksimalkan proses hukumnya dan melakukan trauma healing,” tuturnya, seperti dikutip dari Radar Banten.

No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.