Header Ads

Bila Dunia Tanpa Islam


Bila Dunia Tanpa Islam

Oleh : Muhamad Pauji
Penulis adalah Pegiat organisasi sosial Gema Nusa Banten

Setelah peringatan maulid nabi tahun ini, ada baiknya kita merenungkan kembali teladan Rasulullah yang ditulis oleh Graham E. Fuller dalam bukunya yang fenomenal, “A World Without Islam” (Dunia Tanpa Islam). Ia mengurai secara gamlang geopolitik perjalanan peradaban umat manusia sejak masa dakwah dan risalah Islam ditegakkan Rasul sekitar limabelas abad lalu. Secara eksplisit ia pun menggambarkan gugatan Islam terhadap maraknya imperialisme yang digalakkan dunia Barat sejak pasca perang salib hingga masuknya jaman kolonialisme.

Banyak hal yang dikemukakan Fuller menjadi sehaluan dengan pesan sentral yang sering dikumandangkan Soekarno tentang pentingnya persatuan Islam di Asia (Pan Asiatisme). Fuller sendiri membayangkan bagaimana primitifnya Hinduisme di negeri India jika tidak diperkaya oleh sentuhan peradaban Islam, hingga memasuki era kepemimpinan Jawaharlal Nehru.

Sentuhan peradaban Islam yang diteladani Rasul lebih menekankan spirit universalitas (rahmatan lil alamin). Pesan dan risalah dakwah mesti mengedepankan pentingnya kesantunan dan kelembutan hati. Misalnya dalam salah satu kasus tentang marahnya beberapa sahabat Nabi atas prilaku seorang Arab Baduy yang buang air kecil di pojokan masjid Nabawi. Dalam hadis sahih Bukhari, ditegaskan bahwa Rasul justru menganjurkan mereka agar bersabar dan membiarkan orang Baduy itu menyelesaikan buang airnya.

Setelah seorang sahabat menyiraminya dengan seember air, Rasul kemudian menyindir yang lainnya: “Bukankah kalian diutus untuk mempermudah urusan orang, bukan untuk mempersulitnya?” (Tanbihul Afham I:8788).

Sebagian ulama berpendapat, nasihat yang disampaikan dengan santun itu tak lain agar penyampaian ajaran Islam lebih mengandung hikmah dan mudah diterima akal sehat. Beda dengan doktrin yang bersifat memaksakan dan menakut-nakuti, hanya mudah diterima oleh alam bawah sadar, namun mudah tertolak kembali ketika kesadaran manusia sudah pulih dan normal.

Kadangkala manusia, demi untuk kepentingan egoisme pribadi atau kelompok, dengan mengatasnamakan ukhuwah islamiyah, lantas seenaknya menafsirkan amr ma’ruf nahi munkar dalam pengertian kaku dan semena-mena. Padahal konsep kasih sayang dalam Islam menghadirkan hak dan kehormatan. Sebagai bentuk haknya, mestinya ia ikhlas membimbing dan mengarahkan saudaranya untuk keselamatan dunia dan akhiratnya.

Saudara dan sahabat yang sejati adalah orang yang mau mengarahkan hidup kita bagi keselamatan akhirat, meskipun berisiko bagi kurangnya urusan duniawi. Sedangkan musuh kita (setan) selalu membisiki kita untuk mencapai keuntungan duniawi semata, serta mengurangi dan mengabaikan kemaslahatan urusan akhirat kita. Karena itu, orang yang mengajak kebaikan dan melarang kemungkaran, wajib bersikap lembut dan santun agar tujuan menciptakan perbaikan bisa tercapai.

Dalam soal ini, Imam Syafi’i pernah menegaskan bahwa, orang yang mengkritik dan menasihati saudaranya dengan santun, berarti ia telah menunjukkan saudaranya untuk menghiasi dirinya, tetapi mereka yang mengkritik saudaranya secara blak-blakan (di muka umum) berarti akan membuat saudaranya merasa malu. Oleh karena itu, seorang mubalig yang menyampaikan syiar Islam harus ekstra hati-hati dalam memberikan nasihat dan mengajak di jalan kebaikan (amr ma’ruf). Tapi juga sebaliknya, ia harus mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya ketika harus menegur dan memberi peringatan (nahi munkar). Karena pada prinsipnya, kritik maupun teguran harus dilandasi rasa kasih sayang untuk mengajak di jalan kebenaran. Harus diawali dengan niat-niat baik, hingga nasihat maupun kritik itu akan membuahkan rahmat dan berkah.

Sebagai bentuk rasa kasih sayang, seseorang tentu akan menjaga harga diri dan martabat saudaranya dengan memberi saran maupun kritik yang sifatnya membangun, bukan dengan membeberkan kesalahan atau membuka aibnya di depan umum. Di sisi lain, dalam konsep nahi munkar, harus juga diperhatikan sikon tentang watak dan tabiat orang atau masyarakat. Dengan memahami adat dan budaya setempat, pesan-pesan dakwah akan mudah diterima sesuai daya tangkap dan kemampuan berpikirnya. Sebab, dengan penguasaan psikologi massa, niscaya misi kebenaran akan tersampaikan dengan baik sesuai dengan kapasitas si penerimanya, apakah ia seorang awam ataukah terpelajar, apakah ia anak seusia TK ataukah sudah lanjut usia.

Dampak dari Nahi Munkar

Perlu ditegaskan lagi, ketika mengkritik atau menegur seseorang agar menuruti konsep kebenaran dan kebaikan, kita perlu mempertimbangkan sisi positif maupun negatifnya. Pada suatu hari, saat Bilal bin Rabah diperlakukan seperti binatang oleh majikannya, ditindihi batu besar di tengah padang pasir, Abu Bakar memperingatkan para sahabat agar berhati-hati dan menguatkan kesabaran mereka. Masalahnya, jikapun mereka menegur dan memperingatkan, para pembesar Qurays akan marah dan melakukan perlawanan, hingga para sahabat Nabi akan menghadapi lawan-lawan yang tak seimbang.

Kadangkala orang terburu nafsu untuk menjuluki penakut atau pengecut, tetapi bukan di situ letak persoalannya. Bila melarang kemungkaran itu dapat menimbulkan mafsadah, maka tujuan dakwah sama sekali tidak tersampaikan, malah akan terjerumus ke jurang kemungkaran yang lebih parah lagi.

Dalam hal ini, seorang pemikir dan ulama besar Ibnu Qayyim memberikan testimoni bahwa, Rasulullah sudah memberikan teladan bukan hanya dalam hal mengajak kebaikan, tetapi juga mencegah kemungkaran. Semuanya itu tak lepas dari tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai dari penyampaian misi dan risalah dakwah tersebut. Apabila pencegahan kemungkaran itu dapat menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi, konsekuensinya akan merusak tatanan sistem yang sedang berjalan. Konsep sederhananya, para pejuang kebenaran tidak diperbolehkan untuk membakar lumbung padi sebagai bahan-pangan bagi kebutuhan rakyat, hanya karena ada beberapa hama tikus yang menggerogoti satu atau dua karung padi.

Seorang murid bertanya pada sang guru, “Tapi kan kemungkaran itu dibenci oleh Allah, termasuk pelaku dari kemungkaran tersebut?”

Dijawab oleh sang guru dengan pemikiran yang lebih multidimensional bahwa, Allah membenci kemungkaran, tetapi Allah lebih murka jika pencegahan kemungkaran itu dapat menimbulkan mafsadah dan kemungkaran yang lebih parah lagi. Di sinilah pesan sentral dari pentingnya takwa dan kesabaran tinggi dalam konsep Islam. Seperti halnya kisah sufistik tentang para malaikat yang menghindari orang-orang yang berteriak ‘Allahu Akbar’, ketika justru teriakan itu dimanfaatkan untuk menimbulkan kerusakan dan keonaran di tengah masyarakat.

Dalam tulisan ini perlu saya tegaskan kepada para pembaca. Karena hal-hal yang prinsipil dan substantif dalam konsep Islam ini jarang dikemukakan oleh para penulis Banten yang notabene dijuluki negeri seribu wali. Padahal telah terbukti dalam sepanjang sejarah kemanusiaan, ketika kebenaran yang prinsipil tidak ada yang berani mengungkapkannya, niscaya musibah dan malapetaka bisa tertimpa bagi suatu wilayah, di mana tak ada orang yang berani menyatakan yang benar sebagai kebenaran.

Hal ini teramat penting, Saudaraku. Kurangnya kesabaran masyarakat dalam mencegah kemungkaran, kemudian bersikeras meghilangkan kemungkaran itu menurut kemauan nafsu dan ego pribadinya, bukanlah suatu pekerjaan yang dapat mengangkat derajat kemuliaan seorang pejuang. Pada mulanya orang itu berniat menghapus kemungkaran dari ranah Banten (dari muka bumi ini) tetapi cara-cara salah dan kurang sabar yang ditempuhnya, dapat menjerumuskannya kepada kemurkaan Allah Swt.

Dan kita semua tahu, Rasulullah telah melihat beragam kemungkaran terbesar yang dipraktikkan kaum Jahiliyah Arab, tetapi beliau memberikan teladan dengan kekuatan sabar dan takwa. Sampai pada waktunya beliau dan para sahabat – dengan izin dan ridho Allah – berhasil merancang agenda yang strategis untuk mencapai hegemoni politik, baik di lingkungan Madinah maupun Makkah, hingga pada akhirnya menjadi suri tauladan di segenap permukaan bumi ini. Subhanallah. (*)



No comments

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.